Jumat, 30 Desember 2011

MENGONTROL KEUANGAN PRIBADI DENGAN CARA PEMRIORITASAN KEBUTUHAN

Masalah utama yang banyak di hadapi setiap orang rata-rata adalah masalah keuangan. Terutama kita sebagai Mahasiswa, tentunya banyak kebutuhan yang ingin dipenuhi tetapi kondisi keuangan tidak memungkinkan, atau pas-pasan. Mau minta orang tua juga gak enak, karena rasanya kita selalu menyusahkan orang tua dengan meminta uang terus, padahal orang tua kita sudah berjuang mati-matian membiayai uang kuliah yang tidak murah. Nah jadi gimana sih caranya supaya kita tidak selalu merasa kekurangan uang dan kebutuhan kita tetap terpenuhi?


Sebenarnya ada banyak cara yang ditempuh untuk mengontrol keuangan pribadi kita, salah satu metodenya yaitu dengan memisahkan uang untuk membeli kebutuhan dan uang untuk di tabung. Cara ini cukup berguna sekali bagi saya, apalagi saya sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi harus pintar-pintar mengatur keuangan sendiri. Dengan begitu kita dapat membeli barang-barang kebutuhan kita, dan apabila ada kebutuhan yang sangat mendesak kita dapat menggunakan uang tabungan kita. Selain itu juga dengan memilah-milah kebutuhan, antara kebutuhan yang penting dan mendesak sampai kebutuhan yang tidak terlalu penting. Kita harus mendahulukan kebutuhan yang dirasa penting, setelah kebutuhan yang penting tersebut terpenuhi, barulah kita penuhi kebutuhan yang lainnya.


Memulai bisnis untuk mendapatkan tambahan uang saku juga menurut saya sangat efektif, karena selain mendapat tambahan uang saku, kita juga dapat belajar mengasah skill kewirausahaan serta belajar mengatur keuangan di dalam bisnis tersebut. Tidak perlu lah bisnis yang bermodal besar, karena kita masih mahasiswa, banyak kok bisnis yang dengan modal kecil tetapi bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan, seperti jual pulsa electric, berdagang snack, accesories, sampai bisnis online shop.



Sumber :

Selasa, 20 Desember 2011

EUFORIA SEAGAMES 2011


Setelah 14 tahun lewat, akhirnya Indonesia kembali mengungguli 10 negara lain di Asia Tenggara dan menjadi juara umum di Sea Games 2011 dengan mengantongi 182 emas, 151 perak dan 143 perunggu. Sebuah prestasi yang membanggakan, tidak hanya bagi para atlet tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia, mengingat persiapan bagi pelaksanaan SEA Games sendiri sebelumnya sempat mengalami berbagai hambatan. Prestasi yang tentu saja tidak terlepas dari dukungan banyak pihak baik yang terlibat langsung, maupun para supporter Indonesia.

Dimana para supporter Indonesia tidak kalah semangatnya dengan para atlet-atlet yang bertanding. Mereka selalu ada disetiap cabang olahraga Sea Games untuk memberi semangat para atlet-atlet Indonesia, yang tentu akan membangkitkan semangat sehingga Indonesia, yang sebagai Tuan Rumah, meraih medali emas terbanyak dan Juara 1 pada Sea Games 2011.

Selama sebulan terakhir seruan “Ayo! Indonesia Bisa” jadi penyemangat yang tiada henti. Seruan sekaligus kampanye bagi pergerakan dalam memberikan dukungan bagi tim Indonesia dalam Sea Games tersebut diprakarsai oleh CLEAR, dengan tujuan untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali bersatu dan mengembalikan kejayaan Indonesia di ajang SEA Games 2011. Terbukti dukungan masyarakat melalui “Ayo! Indonesia Bisa” telah berhasil memberikan dukungan moral dan emosional bagi para pelaku di SEA Games 2011, baik atlet maupun mereka yang bekerja di balik layar demi suksesnya pelaksanaan ajang tersebut.

Tercatat dalam waktu satu bulan, lebih dari 15 juta dukungan diperoleh melalui website www.ayoindonesiabisa.com. Meski dukungan yang diberikan sesederhana melakukan ‘klik’ di website tersebut, namun dengan hitungan 347 orang memberikan dukungan dengan ‘klik’ setiap menitnya, menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia masih memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Banyaknya dukungan yang terkumpul, sekaligus menunjukkan keberhasilan kampanye Ayo! Indonesia Bisa, jika dibandingkan dengan kampanye sejenis yang pernah diadakan sebelumnya seperti World Cup Africa yang hanya dapat mengumpulkan 10 juta dukungan dalam jangka waktu yang sama. Keberhasilan-keberhasilan yang dicapai merupakan suatu wujud kebanggaan sebagai warga negara Indonesia.


Medali emas yang telah dipersembahkan, merupakan medali emas yang sesungguhnya. Medali emas yang tebuat dari jerih payah dan keringat para atlet, serta dukungan moral dan emosional masyarakat Indonesia. “Ayo! Indonesia Bisa” telah menunjukkan bahwa semangat kebersamaan yang positif mampu memberikan hasil yang positif pula.






Sumber :
http://www.ayoindonesiabisa.com/Article.htm

Selasa, 15 November 2011

BUDAYAKAN MEMBACA

Kita semua tentu sangat familiar dengan pribahasa “Buku adalah jendela dunia”, sebuah peribahasa yang mencoba mendobrak budaya malas membaca. Padahal jika kita cermat dan mau membunuh rasa malas tersebut, ada banyak tumpukan buku di perpustakaan yang dapat dibaca secara cuma-cuma, terlebih kini telah ada perpustakaan keliling sebagai alternatif lain. Dapat kita pahami, bahwanya masyarakat belum mengerti akan esensi membaca. Padahal dengan membaca kita akan menjadi manusia yang tahu dan bukan menjadi manusia yang sok tahu.
Membaca buku adalah pelatihan diri yang hebat, penuh dengan teknik yang bermanfaat dan sumber inspirasi untuk meraih kehidupan yang kita inginkan. Cobalah untuk tidak hanya membaca tapi juga mempelajari dengan seksama. Kaji lah setiap buku yang kita baca, pelajari konsep-konsep yang terkandung didalamnya kemudian berusahalah untuk mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan kita, telebih saat ini telah banyak buku sangat relevan dengan tujuan hidup manusia. Dengan begitu kita akan menemukan sinergi antara nilai buku yang kita baca dengan kualitas kehidupan kita. Kita akan merasakan kenikmatan seni membaca dan ini akan menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan yang akan membuat kita merasa ketergantungan akan membaca. Kebiasaan yang sangat menguntungkan dan mendatangkan banyak manfaat.

Ada beberapa cara untuk menemukan inti dari apa yang kita baca sehingga kita mendapatkan manfaat membaca, yaitu :

1.  Membaca dan mengkaji secara individual. Maksudnya cobalah mensisihkan waktu untuk membaca, memahami konsep-konsep yang terkandung didalamnya dan coba komentari lalu coba aplikasikan dalam kehidupan nyata.

2.  Membaca dan mengkaji secara kolektif, hal ini bisa kita lakukan bersama rekan/teman. Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung didalam buku yang kita baca dengan tidak memasung analisa masing-masing individu, karena dengan begitu pesan yang disampaikan penulis dalam buku akan dapat dipahami.








Sumber :
http://library.akbideub.ac.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=16

MESIN FOTOCOPY YANG RAMAH LINGKUNGAN



Masih ingat dengan Erasable Paper dari Xerox yaitu kertas yang bisa menghapus sendiri tulisan yang ada dalam waktu 24 jam?

Memang bagus untuk lingkungan karena kertas tersebut bisa digunakan kembali.
Sayangnya dengan ketahanan waktu hanya 24 jam, kita harus memilah-milah dokumen mana yang akan menggunakan kertas khusus ini.




Toshiba telah mengumumkan produk mesin fotocopy terbaru mereka yang bisa menghapus tulisan yang ada di kertas dan bisa kita gunakan kembali nantinya (namanya hemat kertas dan ramah lingkungan).

Mesin fotocopy ini akan menggunakan tinta (toner) khusus dimana bila terkena panas, cetakan akan hilang tanpa bekas.
Untuk membuat tulisan hilang dari kertas, kita membutuhkan sebuah alat khusus yang berfungsi untuk menghasilkan panas dan membuat cetakan hilang dan berbeda dengan Xerox, kertas yang digunakan adalah kertas biasa dan kita bisa menggunakan kertas tersebut sampai 5x.

Untuk harganya sendiri, mesin fotocopy ini memang lebih mahal sekitar 20-30% dibandingkan mesin fotocopy sejenis tetapi kalau anda pedulu lingkungan (dan punya uang), tentu harga bukan menjadi masalah.

Toshiba menjanjikan bahwa mesin fotocopy ini akan mulai dijual pada bulan Oktober 2011 atau paling lambat Maret 2012.




Sumber :
Toshiba’s Green Copier Produces Erasable Documents

BAIK DAN BURUK PENGARUH IKLAN TELEVISI

Iklan Televisi
Televisi sebagai media hiburan yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia dan bahkan dunia, merupakan salah satu media yang efektif untuk beriklan. Hal ini dikarenakan iklan televisi mempunyai karakteristik khusus yaitu kombinasi gambar, suara dan gerak. Oleh karena itu pesan yang disampaikan sangat menarik perhatian penonton. Model iklan yang disajikan oleh televisi juga sangat bervariasi. Ketika baru muncul televisi swasta, iklan hanya dalam bentuk klip (baik live action, stop action, maupun animasi dan still). Namun dalam perkembangannya, iklan televisi mengalami banyak sekali perkembangan.
Perkembangan iklan yang makin kreatif tersebut menjadikan makin bervariasinya tayangan iklan dan bisa menjadi hiburan tersendiri. Bagaimana tidak, ada iklan yang bisa membuat kita melebarkan senyum seperti iklan rokok Sampoerna Hijau dengan genk hijaunya, dan masih banyak lagi iklan-ilan lain yang menghibur. Namun tidak dipungkiri banyak juga iklan-iklan yang menyebalkan.

Keunggulan Iklan Televisi
Seperti telah disebutkan di atas bahwa iklan televisi mempunyai karakteristik khusus yaitu kombinasi gambar, suara dan gerak. Dengan karakteristik tersebut mempunyai berbagai keunggulan dibanding media iklan lain. Diantaranya keunggulan tersebut adalah:

1. Kesan realistik
Karena sifat yang visual dan merupakan kombinasi warna-warna, suara dan gerakan, maka iklan televisi tampak hidup dan nyata. Kelebihan ini tidak dimiliki oleh media lain. Dengan kelebihan  ini,  para  pengiklan  dapat  menunjukkan  dan  memamerkan  kelebihan  atau keunggulan produknya secara detail. Jika produk yang diiklankan adalah makanan yang diawetkan, maka pengiklan dapat menunjukkan kemasannya yang khas secara jelas sehingga konsumen dengan mudah mengenalnya di toko-toko. Walaupun ingatan konsumen terhadapapa yang telah diiklankan selalu timbul tenggelam, namun iklan visual menancapkan kesan yang lebih dalam, sehingga konsumen begitu melihat produknya akan segera teringatiklannya di televisi. Pengaruh ini dapat diperkuat lagi jika pembuatan iklannya didukung dengan teknologi grafis komputer.

2. Masyarakat lebih tanggap
Karena iklan televisi dinikmati dirumah-rumah dalam suasana yang serba santai atau reaktif, maka pemirsa lebih siap untuk memberikan perhatian.  Perhatian terhadap iklan televisi semakin besar jika materinya dibuat dengan standar teknis yang  tinggi, dan atau meggunakan tokoh-tokoh ternama sebagai bintang iklan.

3. Repetisi/ pengulangan
Iklan televisi bisa ditayangkan beberapa kali dalam sehari sampai dipandang cukup bermanfaat yang memungkinkan sejumlah masyarakat untuk menyaksikannya, dan dalam frekuensi yang cukup sehingga pengaruh iklan itu muncul. Sekarang ini para pembuat iklan televisi tidak lagi membuat iklan yang panjang-panjang, mereka justru membuat iklan pendek dan menarik. Agar ketika ditayang ulang, pemirsa tidak cepat bosan. Iklan dengan pendekatan emosi yang membuat penasaran pemirsa juga bisa digunakan sebagai teknik untuk lebih diingat oleh pemirsa.

4. Ideal bagi pedagang eceran
Iklan televisi sangat membantu penjualan ditigkat pedagang eceran. Hal ini disebabkan karena selain para pedagang eceran juga menonton televisi seperti orang lain, iklan televisi tersebut seolah-olah dibuat untuk mereka. Pedagang memahami bahwa sesuatu yang diiklankan di televisi, maka permintaan akan barang tersebut akan meningkat sehingga stok barang akan cepat terjual. Agen atau sub agen suatu produk kadang-kadang sulit untuk menjua atau menitipkan produk kepada pedagang eceran jika mereka tidak dapat memberi jaminan bahwa produk tersebut diiklankan di televisi. Beriklan di televisi bahkan menjadi keharusan jika produsen berhubungan dengan perusahaan supermarket yang mempunyai ratusan cabang. Peredaran barang harus berlangsung dengan cepat dan tidak ada yang lebih mampu mempercepat peredaran barang selain televisi.

5. Terkait dengan media iklan lain
Tayangan iklan televisi mungkin saja mudah terlupakan begitu saja. Tapi kelemahan ini bisadiatasi  dengan  memadukannya  dengan  media  iklan  lain.  Jika  konsumen  memerlukan informasi lebih lanjut atau perlu dijabarkan lebih detail, iklan televisi bisa dipadukan dengan iklan di tabloid-tabloid mingguan, khususnya tabloid yang mengulas acara-acara televisi. Iklan pendukung juga bisa dimuat di surat kabar harian. Iklan surat kabar adalah rujukan atas iklan yang telah ditayangkan di televisi.

Pengaruh-Pengaruh Iklan
Pengaruh iklan sangat beragam, merambah berbagai bidang kehidupan manusia mulai dari tingkat individu, keluarga hingga masyarakat, yaitu:

1.    Pengaruh Ekonomi
Diberbagai negara, iklan terbukti mampu memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar bagi perorangan atau biro periklanan yang terlibat didalamnya. Dalam banyak catatan sejarah bahkan menunjukkan bahwa mereka menjadi orang yang sangat kaya. Benyamin Franklin merupakan satu dari sekian banyak kisah sukses pegiat iklan. Dia dikenal sebagai penulis naskah iklan yang piawai, manajer perusahaan periklanan yang handal, salesman,penerbit, serta editor surat kabar.

2. Pengaruh Psikologis
Dampak psikologis iklan sangat beragam, meliputi aspek kognitif, afektif, dan konotatif,baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. Pengaruh psikologis yang terjadi di wilayah kognitif dapat menumbuhkan perhatian khalayak terhadap sesuatu secara lebih tinggi dibanding yang lain. Kita seringkali memberikan perhatian yang lebih besar kepada suatu produk yang diiklankan secara lebih gencar dibanding produk lain. Namun sebaliknya, kita tidak terlalu memberikan perhatian kepada produk yang tidak diiklankan secara gencar. Fenomena tersebut dapat pula disimpulkan bahwa perhatian kita ikut ditentukan oleh iklan.

3. Pengaruh Sosial Budaya
Iklan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi struktur pembangunan budaya disuatu tempat pada kurun waktu tertentu. Dampak iklan yang meluas dan menjadi ikon dimasyarakat akhirnya terserap menjadi budaya oleh masyarakat itu. Misalnya iklan produk kecantikan  yang  membujuk  konsumen  dengan  tren  kecantikan  pada  tahun  tertentu masyarakat terutama kaum wanita menjadikan trend tersebut sebagai gaya hidup. Jika misalnya tidak mengikuti iklan tersbeut maka dianggap ketinggalan jaman, karena setiaptahun berganti-ganti tren.

4. Mendorong Sikap Konsumerisme
Sebagaimana diketahui, konsumsi barang oleh konsumen secara normal mempunyai batastertentu. Tidak saja terbatas pada aspek pemakaian produk, namun juga terbatas pada kemampuandaya beli dengan berbagai alasan. Untuk mengenyangkan perut yang kelaparan misalnya, seseorang mungkin cukup mengkonsumsi 1 atau dua mie instant dalam satu porsinya. Mengkonsumsi lebihdari jumlah tersebut perut tidak dapat lagi menampung. Kalau dipaksakan, perut malah akanmenjadi sakit. Namun dengan  demand management , konsumen dibujuk untuk membeli lebih daribiasanya, dengan alasan untuk stok persediaan di rumah, kesempatan mengikuti undian dengan mengirimkan bungkus sebanyak-banyaknya, dan sebagainya.Upaya untuk meningkatkan konsumsi secara massal melalui pubikasi media massa dalam bentuk iklan. Iklan merupakan informasi yang memberikan berita yang up  to  date kepadakon sumen mengenai produk yang bertujuan menjaga tingkat produksi. Iklan pada dasarnya bersifat membujuk  pemirsa  dengan  berbagai  iming-iming  citraan  yang  ujung-ujungnya  mendorong munculnya hasrat untuk membeli.

KETIKA BERWIRAUSAHA HARUS MENJADI PILIHANKU

Memulai usaha itu memang sungguh luar biasa sulit. Tidak hanya diperlukan modal, tetapi juga tekad, keterampilan, pengetahuan, naluri dan ketekunan. Benarkah hanya itu? Tetapi apa saja yang menentukan keberhasilan kita dalam berwirausaha. Syukurlah kita sangat banyak terbantu dengan banyaknya para pengusaha sukses yang dengan tulus membagikan kiat-kiat suksesnya untuk kita.
Berikut ini yang perlu kita pelajari dari mereka.

Ketekunan
Seseorang pengusaha sukses di bidang medis dan pendidikan mengatakan bahwa yang terpenting dalam berwirausaha adalah “ketekunan.” Dia juga memberikan contoh banyaknya pengusaha sukses yang justru tidak sukses dalam pendidikannya. Justru orang-orang yang mempunyai nilai akademis yang tinggi biasanya malah tidak sukses dalam dunia usaha.

Berani Mengambil Resiko
Seseorang yang lain juga menonjolkan sifat-sifat keberanian dari seorang pengusaha. Seorang pengusaha harus berani mengambil resiko walau pun secara perhitungan matematis mungkin tampak tidak menguntungkan, tetapi justru seringkali malah menguntungkan. Bahkan keuntungannya tidak sedikit, tetapi banyak sekali.

Terampil & Tidak Putus Asa
Biasanya pengusaha sukses itu pernah mengalami beberapa/banyak kegagalan. Tetapi karena mereka tidak mengenal putus asa dan selalu bangkit, selain memperoleh pelajaran dari pengalaman, mereka jadi terampil dalam mengatasi banyak hal dalam berwirausaha.

Berdoa
Rupanya para pengusaha sukses juga rajin berdoa. Maklum saja karena selama berwirausaha mereka seringkali mempertaruhkan segalanya, termasuk hidupnya & keluarganya demi kegiatan berwirausahanya.
Seseorang konsultan usaha pernah memberikan ilustrasi tentang pentingnya doa bagi pengusaha.
Kalau saya memulai usaha sendiri, sudah pasti saya & keluarga akan berdoa dengan sangat khusuk & tekun untuk memohon agar usaha saya berhasil. Tetapi jika saya berwirausaha bersama banyak teman, maka yang turut berdoa akan lebih banyak lagi, tidak hanya saya dan keluarga saya, tetapi juga mereka dan keluarga mereka.

Berani Berubah
Seorang yang memulai usaha sendirinya harus berani menghadapi perubahan yang bakal mengubah seluruh hidupnya. Perubahan itu bisa positif mau pun negatif. Tetapi sebagai langkah awal, para pemula harus memiliki tekad yang kuat untuk mau berubah dan menghadapi segala tantangan yang bakal menghadangnya.
Seseorang konsultan memberikan tes bagi para pemula atau pengusaha kurang sukses yang ingin memulai usahanya atau yang ingin agar usahanya sukses. Tes yang dilakukan sangat sederhana dan dilakukan saat konsultan tersebut bertemu calon kliennya untuk pertama kali.
Biasanya para pemula atau pengusaha kurang sukses tersebut ingin segera mendapatkan konsultasi atau resep-resep mujarab yang instan demi kesuksesan atau kelanggengan usahanya. Tetapi sebelum melakukan konsultansi, sang konsultan menilainya dan memberikan test.
Suatu ketika sang konsultan menemui calon klien yang tampak bangga dengan kumisnya. Memang kumisnya sangat rapi dan bagus bentuknya. Dengan kumisnya itu, sang calon jadi tampak gagah & ganteng. Sesekali sang calon merapikan kumisnya dengan tangannya untuk memperbaiki bentuknya.
Sang konsultan memberikan tes baginya, yaitu dengan menyuruhnya untuk mencukur habis kumisnya. Tetapi kontan sang calon menolak dan akhirnya sang konsultan menolak menanganinya dan mengatakan bahwa dia tidak berani menerima dan menghadapi perubahan yang sebenarnya sangat penting dalam dunia usaha.

Pandai Mengelola
Seseorang pernah berkata: “Pengusaha yang sukses itu adalah pengusaha yang mampu mempekerjakan orang-orang yang cerdas di bidangnya.” Memang benar adanya. Kesuksesannya ditopang oleh para pekerjanya yang berkompeten di bidangnya. Nah, dengan demikian para pengusaha harus mampu memilih dan mempekerjakan orang-orang seperti ini.
Selain dapat mengelola sumberdaya manusia, para pengusaha juga harus pandai mengelola sumber daya yang lain, misalnya aset, keuangan, dll. Kemampuan mengelola ini justru seringkali tidak ditemui di orang-orang cerdas yang akhirnya menjadi karyawan dari si pengusaha.

Seger & Pinter
Ini ada sebuah nasehat dari seorang motivator usaha:
“Kalau badan Anda segar, jadilah militer. Kalau otak Anda pinter, jadilah profesor. Tapi kalau badan Anda seger dan otak Anda pinter, jadilah wirausahawan.”
Jadi dia menekankan pentingnya kesegaran tubuh dan kepintaran otak. Syukurlah jika kita bisa memiliki keduanya. Paling tidak modal sukses sudah ada pada kita.

Kemauan Terus Belajar
Seorang pengusaha sukses pernah berkata bahwa semua usahanya, baik yang gagal mau pun berhasil itu adalah tempat belajarnya. Dan dia mau untuk terus mempelajari setiap usahanya. Bahkan tidak hanya mempelajari apa yang telah dia peroleh dari pengalamannya atau dari teori atau buku, dia juga melakukan percobaan-percobaan dan bermanuver dalam usahanya.


Sumber :

TEKNIK-TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Angket (Questionnaire)

Angket (Questionnaire) adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan penggunaan. Tujuan penyebaran angket iaalah untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban.

Angket dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1)      Angket Terbuka
Angket terbuka (angket tidak terstruktur) ialah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden dapat memberian isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya.
2) Angket Tertutup
Angket tertutup (angket berstruktur) adalah angket yang disajikan dalam bemtuk sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya.

Alat ini memuat sejumlah item atau pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa secara tertulis juga. Dengan mengisi angket ini siswa memberikan keterangan tentang sejumlah hal yang relevan bagi keperluan bimbingan, seperti keterangan tentang keluarga, kesehatan jasmani, riwayat pendidikan, pengalaman belajar sekolah dan dirumah, pergaulan social, rencana pendidikan lanjutan, kegiatan diluar sekolah, hobi dan mungkin kesukaran yang mungkin dihadapi.

Keunggulan :
Dalam waktu singkat diperoleh banyak keterangan. Pengisiannya dapat dilakukan dikelas, siswa dapat menjawab sesuai dengan keadaannya tanpa dipengaruhi oleh orang lain.

Kelemahan :
 - Siswa tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena jawaban terbatas pada hal - hal yang ditanyakan.
- Siswa dapat menjawab tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya jika dia menghendaki demikian.
- Jawaban hanya mengungkap keadaan siswa pada saat angket diisi.





Wawancara/Interview

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
Jadi dengan wawancara, maka peneliti mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi.
Interview merupakan hatinya penelitian sosial. Bila Anda lihat dalam ilmu sosial, maka akan Anda temui semua karena itu pewawancara perlu memahami situasi dan kondisi sehingga dapat memilih waktu yang tepat kapan dan di mana harus melakukan wawancara.

Oleh karena itu peneliti jangan memberi pertanyaan yang biasa.
1. Macam-macam interview/wawancara
Esterberg dalam Sugiyono (2006) mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu:
    a) wawancara terstruktur
    b) wawancara semiterstruktur
    c) wawancara takberstruktur

2. langkah-langkah wawancara
Lincoln dan Guba dalam Sanapiah Faisal dalam Sugiyono (2006), mengemukakan ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
    a) Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan
    b) Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
    c) Mengawali atau membuka alur wawancara
    d) Melangsungkan alur wawancara
    e) Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
    f) Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan
    g) Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh

3. Jenis-jenis pertanyaan dalam wawancara
Patton dan Molleong dalam Sugiyono (2006) menggolongkan enam jenis pertanyaan yang saling berkaitan, yaitu:
    a) Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman
    b) Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat
    c) Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan
    d) Pertanyaan tentang pengetahuan
    e) Pertanyaan yang berkenaan dengan indera
    f) Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi

Selanjutnya Guba dan Lincoln dalam Molleong dalam Sugiyono (2006) mengkalsifikasikan jenis-jenis pertanyaan untuk wawancara sebagai berikut:
    a) Pertanyaan hipotesis
    b) Pertanyaan yang mempersoalkan sesuatu yang ideal dan informan diminta untuk memberikan respon
    c) Pertanyaan yang menantang informan untuk memberikan hipotesis alternatif
    d) Pertanyaan interpretatif
    e) Pertanyaan yang memberikan saran
    f) Pertanyaan untuk mendapatkan suatu alasan
    g) Pertanyaan untuk mendapatkan suatu argumentasi
    h) Pertanyaan untuk mendapatkan suatu alasan
    i) Pertanyaan untuk mengungkap sumber
    j) Pertanyaan yang mengungkapkan kepercayaan terhadap sesuatu
    k) Pertanyaan yang mengarahkan

Spradley dalam Sugiyono (2006) menggolongkan jenis-jenis pertanyaan menjadi tiga, yaitu: pertanyaan deskriptif, pertanyaan struktural, dan pertanyaan kontras.

4. Alat-alat wawancara
Supaya hasil wawancara dapat terekam dengan baik, diperlukan alat-alat sebagai berikut:
    a) buku catatan
    b) tape recorder
    c) camera

5. Mencatat hasil wawancara
Hasil wawancara segera harus dicatat setelah selesai melakukan wawancara agar tidak lupa atau bahkan hilang.





Observasi

1. Macam-macam Observasi
Nasution dalam Sugiyono (2006) menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil (proton dan elektron) maupun yang sangat jauh (benda ruang angkasa) dapat diobservasi dengan jelas.
Sanapiah Faisal dalam Sugiyono (2006) mengklasifikasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi (participant observation), observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt observation dan covert observation), dan observasi yang tak berstruktur (unstructed observation). Selanjutnya Spradley, dalam Susan Stainback (1988) membagi observasi berpartisipasi menjadi empat, yaitu pasive participation, moderate participation, active participation, dan complete participation.

a) Observasi partisipatif
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.
Observasi ini dapat digolongkan menjadi empat, yaitu partisipasi pasif, partisipasi moderat, observasi yang terus terang dan tersamar, dan observasi yang lengkap.
Partisipasi pasif : peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Partisipasi moderat : terdapat keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar.
Partisipasi aktif : peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh nara sumber, tetapi belum sepenuhnya lengkap.
Partisipasi lengkap : peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data.

b) Observasi terus terang atau tersamar
Peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan.

c) Observasi tak terstruktur
Observasi tidak terstuktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Peneliti akan melakukan penelitian pada suku terasing yang belum dikenalnya, maka peneliti akan melakukan observasi tidak terstruktur.

2. Manfaat Observasi
Menurut Patton dalam Nasution yang dikutip Sugiyono (2006), dinyatakan bahwa manfaat observasi adalah sebagai berikut.
a) Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial. Jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh.
b) Dengan observasi maka akan diperoleh pangalaman langsung sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengarugi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau discovery.
c) Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa’ dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara.
d) Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan diungkapkan oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga.
e) Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang di luar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
f) Melalui pengamatan di lapangan, peneliti tidak hanya mengumpulkan data yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan merasakan suasana/ situasi sosial yang teliti.

3. Obyek Observasi
Obyek penelitian dalam penelitian kualitatif yang diobservasi menurut spradley dinamakan situasi sosial, yang terdiri atas tiga komponen yaitu place (tempat), actor (pelaku), activities (aktivitas).
Place, atau tempat di mana interkasi dalam situasi sosial sedang berlangsung
Actor, pelaku atau orang-orang yang sedang memainkan peran tertentu
Avtiviti, atau kegiatan yan dilakukan oleh aktor dalam situasi sosial yang sedang berlangsung.

4. Tahapan Observasi
Menurut Spradley dalam Sugiyono (2006) tahapan observasi ada tiga yaitu :

a) Observasi deskriptif
Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi sosial tertentu sebagai obyek penelitian. Penelitian menghasilkan kesimpulan pertama. Peneliti melakukan analisis domain, sehingga mampu mendeskripsikan terhadap semua yang ditemui.

b) Observasi terfokus
Peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus, peneliti selanjutnya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan.

c) Observasi terseleksi
Peneliti telah menemukan karakteristik kontras-kontras atau perbedaan dan kesamaan antarkategori, serta menemukan hubungan antara satu kategori dengan kategori yang lain.





Studi Literature/Kajian Pustaka

Bahan pustaka merupakan teknik pengumpulan data melalui teks-teks tertulis maupun soft-copy edition, seperti buku, ebook, artikel-artikel dalam majalah, surat kabar, buletin, jurnal, laporan atau arsip organisasi, makalah, publikasi pemerintah, dan lain-lain. Bahan pustaka yang berupa soft-copy edition biasanya diperoleh dari sumber-sumber internet yang dapat diakses secara online. Pengumpulan data melalui bahan pustaka menjadi bagian yang penting dalam penelitian ketika peneliti memutuskan untuk melakukan kajian pustaka dalam menjawab rumusan masalahnya. Pendekatan studi pustaka sangat umum dilakukan dalam penelitian karena peneliti tak perlu mencari data dengan terjun langsung ke lapangan tapi cukup mengumpulkan dan menganalisis data yang tersedia dalam pustaka. Selain itu, pengumpulan data melalui studi pustaka merupakan wujud bahwa telah banyak laporan penelitian yang dituliskan dalam bentuk buku, jurnal, publikasi dan lain-lain. Sehingga hasil laporan penelitian itu akan menjadi data lebih lanjut yang dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut pula. Hal itu terjadi karena sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Dengan demikian, studi pustaka sangat tergantung pada penulisan hasil laporan atau fenomena yang ada dalam masyarakat diungkapkan melalui teks tertulis. Semakin banyak laporan penelitian maupun ‘printed phenomenons’ maka semakin kaya pula data yang tersedia dalam studi pustaka. Dengan begitu, penelitian akan mudah dilakukan dalam rentang waktu yang singkat karena data yang diperlukan mudah didapat peneliti. Hal penting dalam teknik ini adalah peneliti harus mencantumkan sumber yang ia dapat dalam bentuk sistem referensi yang terstandardisasi. Sehingga, darimana data itu diperoleh akan jelas dan mudah untuk croscheck
ulang.








Sumber :

USUL

1. Pengertian Usul
Yang dimaksud dengan usul atau proposal adalah suatu saran atau permintaan kepada seseorang atau suatu badan untuk mengerjakan atau melakukan suatu pekerjaan. Penyusunan suatu proposal dengan pengertian pertama yang dikemukakan diatas dewasa ini sudah merupakan suatu kegiatan tersendiri dalam dunia usaha. Oleh sebab itu diajukan tawaran kepada umum untuk melaksanakan tugas tersebut.
Dalam hal ini semua yang berminat akan menyampaikan usul mereka kepada instansi tadi dengan rencana yang terperinci bagaimana mereka menyelesaikan pekerjaan itu. Usul atau proposal dalam arti kedua sudah lama dikenal. Dalam kegiatan-kegiatan kenegaraan DPR dapat menyampaikan usul-usul kepada pemerintah mengenai sesuatu hal.

2. Sifat dan Jenis Usul
Bila semua tulisan lain dibuat berdasarkan bahan-bahan yang sudah tesedia atau sesuatu yang sudah terjadi,   sebaliknya usul dibuat berdasarkan sesuatu yang belum ada. Walaupun barang yang diusulkan itu belum ada, penulis usul harus merangkaikannya sedemikian rupa sehingga dapat meyakinkan penerima usul. Penerima usul harus betul-betul diyakinkna bahwa penulis usul, entah perseorangan ataupun organisasi, akan sanggup melaksanakan pekerjaan yang direncanakan dan diusulkannya.
Usul lain yang lebih sering dijumpai adalah perencanaan. Untuk pembangunan, gedung, proyek-proyek, sering diajukan pula penwaran untuk melakukan pekerjaan tersebut. Orang-orang yang khususnya bekerja dalam menjual jasa-jasa, berusaha memenangkan penawaran itu dengan memasukkan usul-usul yang diuraikan secara jelas dan terperinci mengenai semua aspek yang diperlukan.

3. Usul Non-formal
Usul-usul  yang bersifat non-formal bentuknya beraneka ragam, tergantung dari penulis, atau kesepakatan antara penulis dan penerima usul. Kadang-kadang usul non-formal disampaikan juga dalam bentuk memorandum atau surat. Bentuk yang non-formal ini bukan hanya dipakai sebagai latihan bagi mahasiswa, tetapi dipergunakan juga dalam dunia usaha. Terlepas dari bentuk mana yang dipergunakan, sebuah usul non-formal, selalu harus mengandung hal-hal berikut :
a.       Masalah
b.      Saran Pemecahan
c.       Permohonan

4. Usul Formal
Seperti halnya dengan semua tulisan formal yang lain, usul formal pun harus memenuhi persyaratan tertentu. Sekurang-kurangnya ada 3 bagian utama, yaitu bagian pelengkap pendahuluan, isi usul, dan bagian pelengkap penutup. Yang palin penting adalah tidak memaksakan suatu pola untuk bermacam-macam usul yang isi dan sifatnya berlainan.

4.1 Bagian Pelengkap Pendahuluan
Beberapa bagian yang mutlak perlu dimasukkan dalam bagian pelengkap pendahuluan ialah :
a.       Surat Pengantar atau Memorandum Pengantar
b.      Sampul dan Halaman Judul
c.       Ikhtisar atau Abstrak
d.      Daftar Isi
e.      Penegasan Permohonan

4.2 Isi Usul
Isi usul merupakan uraian yang terperinci dari pekerjaan atau tugas yang akan dilakukan. Masalah-masalah yang akan dikerjakan itu berbeda-beda sifatnya, disamping itu situasinya pun tidak sama bahkan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap sejenis. Oleh sebab itu pemerincian isi sebuah usul tidak perlu seragam. Namun demikian beberapa topik dibawah ini selalu akan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam isi sebuah usul.
a.       Pembatasan Masalah
b.      Latar Belakang
c.       Luas – Lingkup
d.      Metodologi
e.      Fasilitas
f.        Personalia
g.       Keuntungan dan Kerugian
h.      Lama Waktu
i.         Biaya
j.        Laporan

4.3 Bagian Pelengkap Penutup
Bagian ini sama dengan laporan dan tulisan formal yang lain, berisi bahan kepustakaan, lampiran-lampiran gambar, tabel, dan sebagainya yang dipergunakan dalam usul itu.


Sumber : Gorys Keraf. 1994. Komposisi. NTT : Nusa Indah

LAPORAN

1.       Pengertian Laporan
Laporan merupakan unsur yang sangat penting, terutama dalam menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan. Seringkali karena luasnya organisasi, pimpinan tidak dapatmenguasai keadaan secara terperinci mengenai semua hal-ihwal yang terjadi pada tingkat bawah dari organisasi yang dipimpinnya. Tetapi dengan bantuan laporan pimpinan atas dapat mengetahui secara terus-menerus apa yang terjadi setiap hari pada unit-unit yang paling bawah. Dengan mempertimbangkan bahan-bahan yang disampaikan melalui laporan-laporan, akhirnya sebagai pimpinan ia dapat mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tepat dan cepat.
 Sebagai pegangan mengenai pengertian laporan, kita dapat mengatakan bahwa laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Karena laporan yang dimaksud sering mengambil bentuk tertulis, maka dapat pula dikatakan bahwa laporan merupakan suatu macam dokumen yang menyampaikan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau tengah diselidiki, dalam bentuk fakta-fakta yang diarahkan kepada pemikiran dan tindakan yang akan diambil.

2.       Dasar-dasar Laporan
Sebuah laporan bertolak dari beberapa dasar, yaitu: orang yang memberi laporan, pihak yang menerima laporan dan sifat dan tujuan umum laporan.
a.        Pemberi Laporan
b.       Penerima Laporan
c.        Tujuan Laporan

3.       Sifat Laporan
Hasil yang diharapkan dapat berujud perbaikan, perubahan, bantuan, perkembangan, penegasan sikap, pengambilan keputusan, sejalan dengan tujuan laporan itu. Hasil yang diharapkan itu hanya mungkin dicapai bila sifat laporan itu baik. Laporan yang baik itu harus ditulis dalam bahasa yang baik dan jelas. Bahasa yang baik dan jelas itu dapat menimbulkan pengertian yang tepat, bukan kesan atau sugesti. Disamping sifat-sifat seperti disebutkan diatas, sebuah laporan harus pula mengandung sifat-sifat berikut. Laporan itu harus mengandung imajinasi. Pengertian imajinasi di sini meliputi masalah : pelapor harus tahu secara tepat siapa yang akan menerima laporan itu. Laporan yang dibuat harus sempurna dan komplit, yang berarti tidak boleh ada hal-hal yang diabaikan bila hal-hal itu diperlukan untuk memperkuat kesimpulan dalam laporan itu. Laporan yang baik juga tidak boleh memasukka hal-hal yang menyimpang, yang mengandung prasangka atau memihak. Laporan juga harus disajikan secara menarik. Seperti hal seorang yang ingin memiliki sesuatu barang, bukan karena barangnya itu yang menarik tetapi hasil yang akan diperoleh dari barang yang diinginkannya itu.

4.       Macam-macam Laporan
Telah disinggung diatas bahwa ada laporan umum yang dibuat untuk kepentingan dunia usaha, dan ada pula laporan yang dibuat untuk kepentingan pendidikan. Laporan-laporan umum dapat dibagi sesuai dengan bentuk dan maksudnya :
a.        Laporan berbentuk Formulir Isian
b.       Laporan berbentuk Surat
c.        Laporan berbentuk Memorandum
d.       Laporan Perkembangan dan Laporan Keadaan
e.       Laporan Berkala
f.         Laporan Laboratoris
g.        Laporan Formal dan Semi-formal

5.       Struktur Laporan Formal
Struktur laporan, seperti juga karangan lainnya yang berbentuk buku harus meliputi unsur-unsur berikut. Unsur-unsur tersebut dapat disusun menurut kedua variasi berikut :
a.        Halaman Judul
b.       Surat Penyerahan
c.        Daftar Isi
d.       Ikhtisar dan Abstrak
e.       Pendahuluan
f.         Isi Laporan
g.        Kesimpulan dan Saran

6.       Bahasa Sebuah Laporan
Bahasa yang digunakan dalam sebuah laporan formal haruslah bahasa yang baik, jelas dan teratur. Yang dimaksud dengan bahasa yang baik tidak perlu berarti bahwa laporan itu harus mempergunakan gaya bahasa yang penuh hiasan. Tetapi sekurang-kurangnya dari segi sintaktis bahasanya teratur, jelas memperlihatkan hubungan yang baik antara satu kata dengan kata yang lain, antara satu kalimat dengan kalimat yang lain.

7.       Laporan Buku
Laporan buku sebenarnya bertujuan untuk mendorong mahasiswa membaca buku-buku yang diwajibkan atau yang dianjurkan, serta meningkatkan kemampuan mereka memahami isi buku-buku tersebut. Untuk memahami buku tersebut maka semua prosedur yang perlu untuk meningkatkan sebuah karangan diterapkan pula dalam laporan buku. Laporan buku tidak perlu mengikuti persyaratan bagi laporan formal, di samping itu laporan ini berbeda dari laporan-laporan lain karena ia tidak diperlukan oleh penerima laporan. Karena itu cukup bila terdiri dari bagian-bagian berikut : judul, pendahuluan (mencakup surat penyerhan dan pendahuluan), isi laporan, kesimpulan dan saran.

8.       Penutup
Pendeknya apa saja yang menjadi pokok sebuah laporan, entah bidang pendidikan, perdagangan, industri, diplomasi, teknik, ilmu pengetahuan, semuanya harus disusun secara logis dan jelas. Pada bagian terkahir selalui disertai penilaian tentang baik-buruknya, serta saran-saran untuk mengambil tindakan bila perlu. Baik laporan umum maupun laporan buku sebenarnya mempunyai titik  singgung dengan ringkasan. Keduanya merupakan penyajian suatu pengetahuan yang lebih luas mengenai suatu hal, tetapi dibuat secara lebih singkat untuk maksud tertentu. Keduanya mempunyai perbedaan dengan ringkasan, yaitu ringkasan tidak mengandung pendahuluan dan kesimpulan.

PENGARUH KRISIS GLOBAL TERHADAP PEDAGANG KAKI LIMA

Pengaruh Krisis Global terhadap Pedagang Kaki Lima

Pedagang kaki lima adalah orang yang dengan modal yang relatif sedikit berusaha di bidang produksi dan penjualan barang-barang (jasa-jasa) untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu di dalam masyarakat, usaha tersebut dilaksanakan pada tempat-tempat yang dianggap strategis dalam suasana lingkungan yang informal (Winardi dalam Haryono, 1989). Pedagang kaki lima pada umumnya adalah self-employed, artinya mayoritas pedagang kaki lima hanya terdiri dari satu tenaga kerja. Modal yang dimiliki relatif tidak terlalu besar. Menurut saya peran pedagang kaki lima masih sangat penting untuk menopang ekonomi ditengah krisis finansial global. Pedagang kaki lima itu jangan digusur tapi jutsru sediakan tempat untuk berdagang. Ini pengaman kita untuk sektor riil dalam menghadapi krisis finansial global. Bagaimanapun organisasi pedagang kaki lima belum mampu membantu pedagang kaki lima dalam mengatasi krisis ekonomi yang terjadi dan keadaan ini sebenarnya menjadi tantangan yang masih harus diperhatikan oleh pihak-pihak terkait.




Sumber : http://id.shvoong.com/social-sciences/1776191-dampak-krisis-ekonomi-terhadap-keberadaan/

MACAM-MACAM PENALARAN

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Ada dua macam dalam menalar yaitu induktif dan deduktif :
Penalaran Induktif
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi. Contoh :
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai.
∴ Jika dipanaskan, logam memuai.
Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
∴ Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Contoh:
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

Sumber :